Tidak ada keluhan kok jantung koroner?

| December 28, 2012 | 0 Comments

 

Tidak jarang kita mendengar orang mengungkapkan hal seperti dalam judul diatas. Merasa diri sehat-sehat saja, tanpa keluhan berarti, ketika diperiksa kedapatan sudah ada sumbatan koroner. Bukan kejadian  jarang, baru tahu koroner jantung bermasalah setelah dilakukan pemeriksaan. Mengapa bisa seperti itu?

Pak yob, 78 tahun, satu diantara kasus itu. Belum lama ini dia dipasang cincin stent di salah satu cabang pembuluh darah jantung koronernya. Sungguh tidak menduga kalau itu terjadi.

Siapa nyana bisa begitu. Pak yob sehat-sehat saja. Rajin jalan pagi, rutin dan teratur minum obat darah tinggi, kolesterolnya terkontrol normal, makannya tidak rakus, dan tidak gemuk. Tak ada keluhan apa pun pernah ia rasakan

Suatu hari iseng periksa CT scan jantung. Hasilnya menemukan ada pengapuran cukup tebal di salah satu cabang koronernya. Untuk memastikan bahwa itu perlu dilakukan sesuatu, ia diminta memeriksakan angiografi, pencitraan pembuluh darah koroner

Sekali lagi tak menyangka, kalau memang sudah ada sumbatan yang mengindikasikan perlunya dipasang cincin stent disitu. Mau tidak mau, pak yob mengangguk saja ketika dokternya menganjurkan agar dipasang stent saja, demi amannya, mumpung belum terlanjur terjadi serangan jantung, maka stent pun dipasang.

Tidak ada keluhan kok jantung koroner?

Tidak ada keluhan kok jantung koroner?

Nyaris tanpa keluhan

Kalau ditanya, apakah pak yop selama ini benar tanpa keluhan, iya menjawab, ya keluhan suka sesak saja. Beranggapan hal itu keadaan normal dengan semakin bertambahnya usia, maka ia mengabaikan saja, dan itu tidak dianggapnya keluhan berarti. Namun soal nyeri dada, rasa tertindih di dada, sebagai mana keluhan spesifik serangan koroner, tidak pernah ia alami.

Bahwa keluhan spesifik adanya sumbatan koroner awalnya memang rasa tidak enak di dada. Keluhan nyeri dada dengan berbagai bentuk modilitasnya, ada seperti rasa nyeri, rasa tertindih, rasa ditekan, dan nyerinya menjalar ke lengan , leher, dagu, pundak dan punggung. Itu yang sangat spesifik, namun tidak selalu senyata itu pada setiap yang sudah mengidap sumbatan koroner.

Benar bahwa meraka yang koronernya sudah tersumbat belum tentu memunculkan keluhan tidak enak didada. Selain tergantung seberapa besar sumbatan koroner sudah terjadi, juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain. Sebut mereka yang mengidap diabetic, umumnya kehilangan rasa nyeri dada sewaktu serangan koroner itu datang.

Sistem persaratan pengidap kencing manis sudah kurang sensitive terhadap nyeri yang ditimbulkan akibat tersumbatnya koroner. Itu maka mengapa pengidap diabetic perlu lebih rutinmemeriksakan kondisi koroner jantungnya.

Tak cukup hanya dengan pemeriksaan rekam jantung ECG (electrocardiography) saja. Perlu juga pencitraan koroner yang lebih mendekati fakta keadaan koronernya. Sekarang bisa dilakukan MS-CT scan (multislices computerize tomography scaning).

MS-CT Scan yang mutakhir mengiris lebih tipis sehingga sekecil apapun sumbatan koroner akan terdeteksi. Ini mendekati hasil dengan kateterisasi jantung (catheterization). Kelebihannya lagi. MS-CT Scan tidak bersifat invasive. Mengapa? Karena bagaimanapun memasukkan alat ke pembuluh darah lebih ada resiko ketimbang hanya scanning.

Tentu saja meraka yang berindikasi, diwajibkan untuk memastikan ihwal kondisi koronernya dari waktu kewaktu. Yang punya resiko kena serangan jantung, termasuk yang darah tinggi, diabetic, lemak darah meninggi, perokok, ada turunan, tergolong kelompok berisiko, semua terindikasi untuk rutin berkala memeriksakan diri.

Secara berkala perlu memeriksakan darah (biomarker) juga melihat adakah tanda awal penyumbatan koroner.Melihat beberapa petanda darah sudah bisa membaca kondisi koroner apakah sudah mulai bermasalah. Dilanjutkan untuk konfirmasi dengan melakukan scanning, kalau bukan memilih kateterisasi, jika hasil darah banyaknya factor resiko, dan keluhan pasien, menunjuk kesana.

Selain pengidap kencing manis, Keluhan tidak enak di dada juga tidak tentu harus disarankan semua mengidapnya. Banyak factor Yang mempengaruhi mengapa ada orang yang beresiko tinggi terserang koroner, nemun tanpa keluhan berarti.

Multifaktorial

Untuk terbentuknya sumbatan pada koroner diperlukan sejumlah faktor resiko. Yang umum bila lipid (lemak darah) di atas normal untuk waktu lama. Mereka yang kelebihan kolesterol dan trigliserida tergolong beresiko. Maka perlu ditekan sehingga senantiasa terkontrol dalam kisaran nilai normal.

Tapi mengontrol lipid darah, kolesterol khususnya, tidak cukup hanya melihat nilai normalnya. Perlu dinilai pula seberapa bagus nilai HDL (kolesterol Baik), dan rasionya dengan kolesterol total. Makin tinggi HDL, makin menyehatkan. Itu sebab tak cukup menilai total kolesterol saja. Akan sama beresiko pula kendati total kolesterol normal, kalau HDL rendah

Resiko koroner juga tetap ada kendati kolesterol total normal, namun kalau HDL rendah, bila rasio kolesterol total dengan HDL lebih dari 4,0. Itu maka rasio kolesterol total dengan HDL harus selalu diupayakan idealnya kurang dari 4,0

Yang kolesterol totalnya 200 (berarti normal), Namun bila HDL-nya 4,0, maka rasio kolesterol total dengan HDL menjadi 5,0 atau diatas 40. Pada orang tersebut menjadi tidak normal. Maka HDL-nya perlu dinaikkan dengan olah berolahraga, dan kolesterol totalnya diturunkan lagi agar rasionya dengan HDL menjadi kurang atau sama dengan 4,0

Lain dari itu, terbentuknya pengapuran koroner juga bukan hanya soal lemak di dalam darah dibiarkan tinggi untuk waktu lama. Jangan lupa ada kandungan zat-zat dalam darah lainnya, seperti homocysteine

Yang juga tidak boleh lebih tinggi, apoB, agregasi tinggi sehingga darah rentan menggumpal, radikal bebas berlebih, adanya cedera yang merusak dinding dalam pembuluh darah akibat deras empasan tekanan darah. Sekarang kedapatan pula Berapa kadar hormone lelaki testosteron juga yang ternyata ikut berpengaruh juga.

Bila kadar hormon lelaki ini sudah rendah sejak usia muda, ikut lebih memudahkan terbentuknya sumbatan koroner. Maka sekarang diupayakan pada kaum adam untuk memberikan sulih hormon kejantanan ini juga dalam bentuk injeksi, plester (patch), atau gel, untuk memelihara agar hormone testosterone dalam darah tidak rendah.

Jadi saking banyaknya faktor yang ikut berpengaruh terhadap pembentukan sumbatan koroner, tidak cukup hanya mengendalikan yang umum kita maklumi saja, Seperti lipid darah, tensi darah, dan faktor diabetik belaka. Peran vitamin dan mineral dalam menghambat pembentukan pengapuran dinding pembuluh koroner, juga perlu diperhatikan.

Visit : www.smartdetoxsynergy.com

Sumber : Cara sehat oleh Dr.Handrawan Nadesul

Baca artikel menarik lainnya : Paru-Paru dan Rusuk manusia

 

Incoming search terms:

Tags: , , , ,

Category: Tidak ada keluhan kok jantung koroner?

About the Author ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *